Terompet Itu dan Fitnah Akhir Zaman

refleksi tahun 2015
Refleksi Tahun 2015
29/12/2015
Adelaide Mulai Bershalawat
05/01/2016
Show all

Terompet Itu dan Fitnah Akhir Zaman

fitnah akhir zaman

Menjelang akhir tahun, ada sedikit peristiwa yang ingin saya sorot dan kupas dalam tulisan ini. Pertama adalah banyak munculnya fitnah-fitnah keji, marak dan dengan mudahnya di sebar tanpa adanya crosscheck terlebih dahulu. Kadang yang menjadi miris adalah banyak kawan dan handai tolan kita yang well known sebagai orang yang berpendidikan dan terpandang, ketika mendapatkan berita itu langsung mengshare tanpa mengecek keabsahan berita yang didapat. Gejala ini saya dapatkan di dunia percaturan Sosial Media khususnya pasca pemilihan presiden Indonesia yang head to head tahun 2014 kemarin.

Kedua adalah keterkejutan saya dengan statement terbuka dari seorang aktor kenamaan Indonesia, yang pada satu peran yang dimainkan di salah satu film besar yang memerankan tokoh besar, pendakwah yang kecewa secara religious dan menyatakan ketidakimanannya dan beralih kepada keyakinan lainnya. Saya tidak mempermasalahkan apakah dia mau pindah keyakinan atau tidak, namun fakta-fakta yang dimunculkan kenapa agama yang Rahmatan Lilalamin ini tidak terlihat kesejukannya dan kedamaian dimatanya? Apakah hanya gara-gara segelintir orang yang di ekspos media yang mengutamakan kekerasan dan arogansi dalam berdakwah? Mencegah kemungkaran dengan kekerasan dan kebringasan? Atau malah akhir-akhir ini di daerah timur tengah dimunculkan sebuah kelompok yang mengatasnamakan agama Rahmatan Lilalamin, namun dalam kelakuannya dengan mudah membunuh mereka yang beda pendapat terlebih yang berbeda keyakinan. Belim lagi saling benci dari kelompok politik semenjak meninggalnya Rosulullah SAW yang memunculkan golongan Khawarij, Pendukung Ali R. A (Syiah) dan pendukung Muawiyah yang sampai sekarang terbawa konflik Syiah-Sunni.

Ketiga adalah drama kolosal yang dimunculkan dari rekaman para petingi negara yang seolah-olah sumber daya alam Negeri ini milik nenek moyangnya yang dengan enaknya dimainkan untuk kepentingan sendiri. Belum lagi proses pembelaan yang membabi buta yang dipertontonkan oleh elit politik yang tanpa malu dan tanpa hitungan kemaslahatan umat, menjadikan masyarakat muak dengan sandiwara ini. Belum lagi banyaknya contoh yang kurang sedap dari para elit politik yang berbasis partai keagamaan yang akhirnya muncul meme “lebih baik dipimpin pemimpin kafir tapi tidak korup” naudzubillah mindzaliq. Dari meme terakhir seolah olah pemimpin muslim itu identik dengan korup dan abuse of power ya? . Disinilah letak kegagalan Umat muslim Indonesia (baca; partai politik Islam) dalam memunculkan sosok pemimpin yang amanah dan bisa mensejahterahkan umat. Disisi lain ada semacam judgement “lha itu kan hanya permainan media saja yang hanya mengekpose kelompok tertentu dan media itu dikuasai oleh kelompok yang lain”. Mungkin Judgment ini ada benarnya, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Kenapa tidak sepenuhnya salah? Andai pemimpin kita itu seperti para sahabat Rosulollah SAW dalam memimpin, insya Allah usaha-usaha untuk mendeskriditkan umat menjadi lebih kecil.

Keempat adalah munculnya fitnah melalui ditemukannya terompet yang terbuat dari sisa produksi kitab Suci, masif lagi jumlahnya. Skenario apa lagi yang ada nih? Begitu tanya ummat di kepalanya masing masing. Apa yang salah? Kan produksi kitab suci ada prosedurnya, untuk yang gagal cetak dan gagal produksi, sisa bahannya harus dikemanakan dan diapain kan sudah jelas, apakah kementrian agama dan mitra percetakannya melakukan kesalahan prosedur? Ataukah ada oknum yang memainkan diantara SOP percetakan tersebut? Hemmmmm pelik juga. Belum lagi masyarakat yang dikorbankan khususnya masyarakat awam yang tahunya hanya “mencari nafkah” seperti pengrajin kecil. Di beberapa sosial media malah ada beberapa dialog imaginer yang mengambarkan tentang investigasi kesalahan SOP percetakan kitab Suci ini dimana yang berujung pada pembuatan terompet yang dikhawatirkan ada penistaan agama.

Polisi : Kenapa terompet yang kamu jual dari sampul al-Qur’an ?
Penjual 1 : Maaf pak, saya tidak sengaja
Polisi : Kamu, kenapa sampul al-qur’an ?
Penjual 2 : Iseng aja pak, cari sensasi, supaya eksis di tipi
Polisi : Kalau kamu, apa alasan kamu make sampul al-Qur’an?
Penjual 3 : Yang penting bahannya saya beli pak, nggak dari ngorup
Polisi : Hei, kamu, kenapa terompet kamu dari sampul al-Qur’an?
Penjual 4 : Ngapain bapak ngurusin saya, urusin juga tuh para tikus-tikus berdasi, kampret yang demen ngemainin kepentingan rakyat.
Polisi : Lha ini juga, ngapain jual trompet dari sampul al-Qur’an?
Penjual 5 : Ssssssst…… ini buat bapak ($)
Polisi : Hayo, kenapa sampul al-Qur’an ini kamu buat terompet ?
Penjual 6 : Nilai seninya bagus pak, daya jualnya melesat, labanya tingkat sidrotul muntaha
Polisi : Tolong jelaskan, kenapa terompet ini dari sampul al-Qur’an ?
Penjual 7 : Supaya orang-orang yang merayakan tahun baru tidak keblabasan pak, niup terompet sembari inget ama yang nurunin (sampulnya) al-Qur’an, he he
Polisi : Nah, kamu sekarang, utarakan juga alasan kamu !
Penjual 8 : Bapak diem aja deh, MUI aja diem kok
Polisi : Kalau kamu, kenapa kamu make sampul al-Qur’an untuk terompet kamu ?
Penjual 9 : Ah, apalah arti sebuah sampul pak
Polisi : Ayo jelasin, kenapa bahan terompet ini dari sampul al-Qur’an ?
Penjual 10 : Emang, masalah buat lho …
Kapolres: Ada penjual lagi ? Bawa sini ! Mana suppliernya?

Dari Dialog imaginer ini sepertinya menggambarkan skeptisan masyarakat dalam menyikapi permasalahan dari jawaban yang sangat sok filosofis “Supaya orang-orang yang merayakan tahun baru tidak keblabasan pak, niup terompet sembari inget ama yang nurunin (sampulnya) al-Qur’an, he he” atau yang skeptis seperti “Yang penting bahannya saya beli pak, nggak dari ngorup”, “Ngapain bapak ngurusin saya, urusin juga tuh para tikus-tikus berdasi, kampret yang demen ngemainin kepentingan rakyat” ataupun jawaban semau gue seperti “Iseng aja pak, cari sensasi, supaya eksis di tipi”, atau “ Emang, masalah buat lho …” adalah jawaban jawaban yang menurut saya cukup representative di masyarakat.

Pertanyaannya kenapa kok begitu?
Sekilas memang kayaknya sih itu tidak ada isu agama. Masyarakat awam pengrajin terompet mikirnya adalah yang penting dapat kertas ya sudah langsung pakai. Oke lah kalau yang penting dapat kertas, apakah tidak ada kertas bekas lain ? perlu diusut kayaknya siapa yang supply al quran bekas ke pengrajin rumahan gitu. Kenyataan lain yang membuat miris adalah mereka tidak berfikir sampai ke situ. Kadang masih banyak umat yang baca huruf arab aja mungkin tidak bisa.

Menilik dari sisi pengusaha percetakan misalnya ada customer ingin cetak al quran tapi ternyata tidak jadi atau ada sisa dan kebetulan pengusaha itu udah buat covernya, DP udah masuk. Dari pada dibuang atau dibakar mending dijual lagi kan? walaupun masih tetap rugi. Kalaupun masuk pengolahan kertas nantinya disana juga dicincang-cincang itu kertas. Kembali lagi ke masyarakat awam yang tahunya hanya survive sedemikian mungkin untuk mendapatkan penghasilan, ada bahan terus mereka membuatn kerajinan, terompet untuk tahun baru atau mungkin nanti bakalan ada mainan anak-anak yang dilapisi kertas sampul AlQuran. Disini terlihat masyarakat kecil yang jadi korban, mencari rejeki halal ternyata tidak mudah. Niatnya bener mau nyari nafkah, eh bisa jadi melakukannya yang menimbulkan polemik.

Sepertinya kasus terompet ini ada SOP yangg tidak diikuti, Masalahnya di perusahaan itu kontrol untuk menjadikan limbah sisa percetakan tadi sepertinya tidak ada, padahal protabnya harus dilebur. Hal ini adalah Contoh kecil bagaimana korupsi itu terjadi. Jadi korupsi itu tidak perkara “ngutit” duit aja tapi banyak yang linked kesana. Kedua, masyarakat kita yang belum waspada sehingga bisa di “tunggangi”. Ketiga ketegasan aparat yang masih pandang bulu menjadikan semua cenderung ceroboh dan “semau gue”. Keempat, kayaknya ini yang penting, orang-orang berilmu atau yang ngaku berilmu cenderung elitis dan kurang membumi, sehingga gagal mencerdaskan masyarakat.

Saya melihat semua kasus diatas sebagai “kegagalan” dakwah. Gagal menyajikan pemahaman sederhana terhadap teks-teks keagamaan yang bisa dicerna masyarakat awam. Sehingga masyarakat kurang aware tentang kemungkinan kemungkinan dimanfaatkan oleh sekelompok orang.

Misalkan nih banyak orang yang mengaku faham isi Qur’an yang ditunjukin dia sering mengutip ayat dan hadist namun dan tidak melakukan serta mengamalkan apa yang diomongkan. Lebih detail begini di Qur’an kan dianjurkan untuk bertutur yang baik, saling mengingatkan, beramal tapi kadang masih banyak yang saling mengunjing kawannya, menjadikan gunjingan dari dapur ke dapur atau malah memoles cerita seolah-olah mendramatisir yang terjadi atau pelit banget kalau diminta bantuan, sukanya hanya meminta bantuan.

Lha bagaimana cara memperbaikinya? Hemmm mungkin harus dibawa ke bengkel alqodar, bengkel yang bisa memasukkan ruh Qur’an ke qolbu kita, istilah lainnya adalah menginstal ulang Quran yang ada pada diri kita yang kemudian dari penginslatan individu ini insyallah akan bisa mengformat komunitas. Dari sini akan memunculkan pemahaman yang holistic terhadap apa maunya “Tuhan” melalui kitab suciNya sehingga kita sebagai umat yang berpegang pada ajaran yang Rahmatan Lilalamin tidak terjebak dalam simbol simbol saja. Kalau terjebak dalam urusan simbol, maka adanya hanya Jarkoni (iso ujar ora iso ngelakoni- bisanya berteori mempraktekknya ndak becus).

Sesungguhnya, Rumus perbaikan sudah ada sejak lama: Ibda’ binafsik (mulai dari diri sendiri). Memang tidak mudah, karena harus bisa mengalahkan hawa nafsu. Kalau sudah bisa memperbaiki diri sendiri, akan lebih mudah memperbaiki yang di luar diri kita. Wallahu A’lam bishawab

—–
Achmad Room Fitrianto
Phd Candidate di Department of Social Science and International Studies, Curtin University
Peneliti di Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Bisnis Islam – UIN Sunan Ampel- Surabaya, Indonesia
Dosen di Program Study Ekonomi UIN Sunan Ampel- Surabaya, Indonesia
Pengurus Ranting Istimewa NU di Western Australia bidang Lajnah Ta’lif wa Nasyr

Leave a Reply