Dari Safari Ramadhan Kiai Rafiq – Jangan Mudah Menghakimi

Logo Muktamar NU ke-33#pcinu-anz
Muktamar NU ke-33 di Jombang
24/06/2015
AMTSAL
26/06/2015
Show all

Dari Safari Ramadhan Kiai Rafiq – Jangan Mudah Menghakimi

Jamaah Brisbane#pcinu-anz

Tri Mulyani Sunarharum

(Brisbane, Queensland)

 

Pengajian Ramadhan yang kali menghadirkan Kiai Dr. Ahmad Rafiq, cukup menarik. Pakat ilmu tafsir dari  UIN Sunan Kalijaga itu memberikan pencerahan kepada para jamaah, khususnya saya sendiri. Berikut rangkuman paparan beliau dalam tema, “Reception of the Quran in Indonesia: The Place of the Quran in a Non-Arabic Community”.

– Sharing pengalaman beliau ketika menimba ilmu menempuh studi S3 di Philadelpia, U.S. sambil melakukan syiar agama dengan tetap menjaga hubungan baik dengan komunitas lokal dan komunitas agama lain. Beliau bercerita kalau pada kenyataannya, pemberitaan di media atau televisi mengenai persepsi dan sikap Amerika terhadap muslim tidak bisa digeneralisasi karena banyak warganya yang bersikap baik terhadap warga muslim di sana. Contohnya saja, warga non muslim di sana termasuk juga orang lokal malah membantunya untuk mendirikan masjid sampai akhirnya banyak bermunculan masjid-masjid lainnya.

Dr. Ahmad Rafiq#pcinu-anz

Dr. Ahmad Rafiq

Sangat penting untuk menghindari kata-kata “minoritas” dan “mayoritas”. Karena pada hakikatnya manusia sama-sama punya hak hidup dan harus bisa sama-sama menjaga perdamaian. Sedangkan peperangan diperbolehkan hanya untuk membela diri dalam rangka mempertahankan hak untuk hidup. Memang selalu ada saja ketidakadilan yang didapat oleh pihak yang disebut “minoritas”, namun jangan sampai peristiwa tersebut menjadikan kita berbuat hal yang sama kepada pihak lainnya. Kalau kita tidak suka ditindas, ya jangan menindas yang lainnya. Kalaupun kita jd korban yang tertindas, ya sabar saja dulu sampai memang bila hal tersebut mengancam hidup kita dan kemaslahatan orang banyak, baru boleh ada perlawanan. Nabi Muhammad SAW telah memberikan keteladanan dengan praktek kesabarannya ketika tertindas selama bertahun-tahun oleh kaum Quraisy. Hingga akhirnya Allah memperbolehkannya membela diri (melakukan perlawanan), dengan tujuan perdamaian, yaitu apabila tidak dilawan maka dampak kejahatan kaum Quraisy tidak akan baik bagi umat muslim dan juga bagi umat lainnya. Jadi perlawanan tersebut untuk kemaslahatan orang banyak, namun jangan sampai menyalahartikan izin Allah tersebut.

Jamaah Brisbane#pcinu-anz

Sebagian jamaah pengajian Brisbane.

Transmisi dan transformasi ajaran Islam mulai dari jaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini, yang merujuk pada berbagai teori dari kitab-kitab terdahulu. Ajaran Islam ditransmisikan dari masa ke masa hingga bertahan sampai sekarang. Sedangkan dalam perjalanannya ajaran Islam mengalami transformasi dengan trend yang semakin meluas. Bila digambarkan seperti piramida, dimana ujung pangkal puncak piramida adalah ajaran yang diterima Nabi Muhammad, sedangkan semakin lama semakin ke bawah, kian bertransformasi ajarannya. Artinya semakin banyak perbedaan- perbedaan dalam mentafsirkan Al Quran karena disesuaikan dengan zaman, kebutuhan, konteks, dan cara berpikir pada masa itu. Tentu saja hendaknya kita juga menelaah dan menganalisa dulu apa sebenarnya makna yang terkandung di dalam suatu ayat atau hadits tertentu, tidak langsung ditelan mentah-mentah. Sebagai contohnya, penggunaan atau pembacaan Surat Al Fatihah yang sangat beragam. Ada yang membacakan Al Fatihah untuk menyembuhkan orang sakit, ada yang membacanya untuk membuka acara. Ini lebih kepada penggunaan fungsi performatif dari Surat Al Fatihah ketimbang fungsi informatifnya, karena belum tentu yang membaca benar-benar memahami maknanya.

Kalaupun diantara umat muslim ada banyak perbedaan dalam penafsiran ayat-ayat Al Quran yang merujuk pada hadits atau pada madzab tertentu, tidak masalah selama tidak keluar dari koridor ajaran Islam, yaitu selama hal tersebut tidak malah merugikan/mengancam kemaslahatan pihak lain, tidak memutuskan tali silaturrahmi dengan yang lain, dan tidak bertentangan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin.

Karena sesungguhnya perbedaan-perbedaan tersebut adalah bagian dari Al Quran. Pada bagian ini, saya sependapat Kiai Rafiq, bukankah kita semua berbeda-beda namun ruh (zat hidup) kita sama-sama bersumber dari Sang Khalik? Perbedaan akan selalu ada dan yang penting kita sendiri bisa menjaga habluminallah wa habluminannas (hubungan baik dengan Tuhan dan dengan sesama manusia).

Tri Mulyani Sunarharum#pcinu-anz

Tri Mulyani Sunarharum.

Kecenderungan manusia sekarang ini begitu merasa tahu akan suatu hal/perkara, biasanya mudah memberikan ‘judgement’ (penghakiman) terhadap pihak lainnya. Padahal bisa jadi pengetahuannya itu masih sempit atau belum menyeluruh atau belum disesuaikan dengan konteksnya. Jadi bisa jadi juga persepsi atau pengertiannya terhadap suatu hal masih belum matang. Yang baik adalah jangan mudah menghakimi terhadap yang lainnya.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply