Beragama di Sekolah di Australia

Kelahiran Sang Rosul
18/12/2015
Haul Gusdur 26 Desember 2015
Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur
29/12/2015
Show all

Beragama di Sekolah di Australia

Clayton North Primary School

Terletak di dekat kampus Monash University dengan banyak mahasiswa internasional di pinggiran Melbourne, Clayton North Primary School sudah terbiasa menerima murid dari berbagai budaya dunia. Berikut pengalaman Neneng Yanti K. Lahpan, mahasiswa PhD asal Indonesia, mengenai sekolah yang berusia 150 itu.

Siang itu sekira jam 1 siang. Jam istirahat makan siang di sekolah. Gerimis dan udara cukup dingin di luar. Dua anak kecil berdiri berjejer di sebuah lorong kantor sekolah.

Saya yang tengah bergegas menuju ruang kantor sekolah melewati mereka. Sepintas saya perhatikan mungkin mereka kakak beradik, tapi mungkin juga bukan. Dua-duanya berjilbab. Umur mereka kira-kira yang besar 9 tahun, yang kecil 5-6 tahun.

Sambil bergegas menuju kantor sekolah, tiba-tiba saya terharu melihat pemandangan itu. Kedua anak itu sedang beribadah. Ya, mereka shalat dzuhur di lorong kantor sekolah yang bersih dan berkarpet, pada saat jam istirahat!

Clayton North Primary School (CNPS) tempat anak saya bersekolah, bisa dibilang, salah satu sekolah yang sangat multikultur di Melbourne.

Clayton North Primary School

Clayton North Primary School adalah salah satu sekolah yang sangat multikultur di Australia

Posisinya yang dekat salah satu kampus besar di Australia, Monash University, membuat para muridnya pun berasal dari berbagai penjuru dunia. Umumnya mereka mengikuti orangtua yang tengah studi dan kembali saat orangtua mereka selesai belajar.

Tentu banyak anak yang saat datang belum bisa berbahasa Inggris, termasuk Miko. Teringat pada hari pertama kami mendatangi sekolah untuk mendaftarkan Miko, saya berkata pada petugas sekolah dengan nada khawatir, “Anak saya ini belum bisa bahasa Inggris.”

Dengan tenang si ibu petugas berkata, “Kamu lihat peta di dinding itu? Dari sanalah murid-murid kami berasal. So, don’t worry,” katanya sambil menunjuk pada sebuah peta dunia yang menempel di dinding.

Ada bendera-bendera kecil dari berbagai negara yang ditempelkan pada peta, tempat murid-murid di sekolah ini berasal. Mereka sudah terbiasa menghadapi para murid internasional yang belum bisa berbahasa Inggris.

Hebatnya, sekolah ini tidak mensyaratkan anak-anak melakukan bridging (semacam kursus bahasa sebelum mulai sekolah). Mereka punya metode sendiri bagaimana anak-anak bisa beradaptasi dengan cepat, termasuk soal bahasa.

Sadar akan keberagaman para muridnya, sekolah ini selalu berupaya melakukan macam-macam aktivitas untuk merayakan perbedaan.

Salah satunya adalah Harmony Day. Sebuah perayaan multikultur yang dirayakan oleh seluruh sekolah di Australia setiap tanggal 21 Maret. Pada hari itu, anak-anak diminta berpakaian tradisional dari negaranya masing-masing, membawa makanan khas dari negaranya, menyajikan tarian-tarian khas dan lainnya.

Tidak hanya dalam budaya, sekolah ini pun menanamkan toleransi yang besar dalam hal praktek beragama.

Meski Australia dikenal sebagai negara sekular yang menempatkan agama sebagai urusan pribadi, begitu pula dalam sistem pendidikannya yang tidak mengajarkan keyakinan agama tertentu, tetapi beberapa sekolah di Australia, sesuai kebijakan pemerintah setempat, memberi kesempatan pengajaran agama di sekolah sesuai dengan kebutuhan murid-muridnya, seperti Kristen, Hindu, dan Islam.

Namanya SRI (Special Religious Instruction). Kebijakan kurikukum SRI di VIC bisa ditengok di link ini. Itu semacam pelajaran tambahan yang diajarkan oleh guru sukarelawan yang didatangkan dari luar sekolah, selama 30 menit setiap minggunya.

Tidak semua sekolah memberikan waktu pengajaran SRI, karena itu berdasarkan kebutuhan para murid saja. Yang menarik, kelas agama Islam di sekolah ini selalu yang terbanyak muridnya.

Organisasi yang menaungi guru-guru volunteer pengajar agama Islam yang pernah saya ikuti selalu kekurangan guru volunteer, mengingat besarnya jumlah kelas di sekolah-sekolah yang memberi kesempatan pengajaran agama Islam.

Meskipun guru-gurunya volunteer, tapi mereka harus ikut training khusus dan memiliki kartu WWC (working with children) yang disahkan oleh Departemen Kehakiman sini. Hal ini untuk memastikan para guru punya pengetahuan cukup bagaimana berinteraksi dengan anak-anak dalam kelas.

Sebagai sekolah yang memiliki banyak mahasiswa internasional, CNPS cukup familiar dan menghargai praktik-praktik keagamaan para murid termasuk yang Muslim, seperti puasa dan shalat.

Meskipun tidak ada ruangan khusus untuk beribadah, anak-anak selalu berkesempatan melaksanakan shalat duhur di tempat yang diijinkan oleh guru mereka.

Padahal,10 tahun yang lalu banyak sekolah yang masih belum familiar dengan Islamic practices ini. Misalnya, seorang teman (di sekolah yang berbeda) bercerita bagaimana ia sempat ditegur keras oleh guru sekolah karena anaknya berpuasa.

Padahal saat itu bulan puasa bersamaan dengan musim panas, yang artinya siangnya bisa sangat lama. Guru tersebut merasa khawatir anak-anak yang sedang latihan berpuasa itu terkena dehidrasi, dan jika dibiarkan itu bisa dianggap child abuse (kekerasan terhadap anak) yang memiliki konsekwensi hukum.

Berkat penjelasan yang diberikan oleh para orang tua, sekolah pun lama-kelamaan bisa memahaminya. (Misalnya, bahwa ini adalah latihan dan anak-anak boleh berbuka kapan saja jika merasa kepayahan).

Kini, tidak ada lagi guru yang mempersoalkan anak berpuasa misalnya. Bahkan, tahun lalu di CNPS, di bulan puasa Miko dan teman-teman Muslimnya yang sedang berpuasa dikumpulkan di ruangan khusus saat jam istirahat makan siang tiba.

Neneng Yanti Lahpan

Neneng Yanti Lahpan

Maklum, saat makan siang itu anak harus ada di dalam kelas dan tidak boleh berkeliaran di luar kelas. Mereka harus ada di ruangan yang sama untuk makan siang bersama.

Dulu, di tahun pertama Miko puasa (kelas 3) saya sangat terharu mendengar ceritanya bagaimana saat jam makan siang dia hanya bisa menyaksikan teman-temannya makan (karena harus tetap berada di kelas saat jam makan siang itu). Saya dulu menghiburnya dengan mengatakan, “Pahalamu berpuasa di sini lebih besar daripada puasamu di Indonesia.”

“Kenapa bu?” tanya Miko. “Karena di Indonesia, tidak ada orang makan di depanmu saat kamu puasa, tapi di sini kamu bisa lihat orang makan di mana-mana saat kamu puasa. Itu perjuangan yang besar.”

Saat itu, saya juga sempat memberitahu guru kelasnya bahwa Miko berpuasa. “Don’t worry, his teacher is also fasting.” Ternyata, bu gurunya juga seorang Muslim dan ia pun berpuasa.

Di lain waktu, Miko membawa pulang makanan hasil masakan dia dan teman-temannya dari pelajaran cooking class untuk berbuka puasa. Ia bercerita bagaimana gurunya sengaja menyisihkan makanan itu untuknya karena tahu ia berpuasa.

Kini, CNPS hendak merayakan ulang tahunnya yang ke-150 bulan September nanti. Happy Anniversary, CNPS! Keep up the good work in leading a multicultural school in Australia!

* Neneng Yanti K. Lahpan, kandidat PhD bidang Antropologi pada Monash University, dosen di Jurusan Karawitan STSI/ISBI Bandung sejak 2006.

** Sumber : Australia Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *