Al-Mu’tazz: Khalifah Yang Bangkrut Dan Disiksa Pasukannya

Dabusi dan Sarakhsi
25/01/2018
Khalifah At-Thai’: Tak Punya Kuasa, Tak Punya Asa
15/03/2018
Show all

Al-Mu’tazz: Khalifah Yang Bangkrut Dan Disiksa Pasukannya

Oleh: KH. Nadirsyah Hosen

 

Peperangan yang dimenangkan al-Mu’tazz terhadap pamannya, Khalifah al-Musta’in, membawa dia ke takhta kekuasaan. Diceritakan sebelumnya al-Musta’in yang dipaksa mengundurkan diri, tidak lama kemudian kepalanya pun dipenggal. Khalifah ketiga belas Abbasiyah Al-Mu’tazz naik berkuasa dengan lumuran darah. Sayangnya dia tidak bisa berkuasa sepenuhnya. Dia hanya menjadi khalifah boneka dari para Jenderal Militer Turki, yang telah membantunya merebut kekuasaan dari al-Musta’in. Bagaimana kisah selanjutnya? Catatan ngaji sejarah politik Islam kembali hadir untuk pembaca setia kolom ini.

Revolusi memakan anaknya sendiri. Begitu kata sebagian pihak. Mereka yang naik kekuasaan lewat jalan pintas, biasanya kekuasaannya pun tidak berlangsung lama. Al-Mu’tazz menerima bai’at sebagai khalifah saat berusia 19 tahun. Imam Suyuthi mengatakan dia khalifah termuda Abbasiyah. Namun, dia hanya berkuasa sekitar 4,5 tahun. Akhir kekuasaannya pun berakhir tragis.

Setelah berkuasa, dia bukan saja memerintahkan untuk mencari dan membunuh al-Musta’in, tapi dia juga mencopot adiknya, al-Mu’ayyad, dari jalur suksesi pada 18 Juli 866 Masehi. Bahkan Imam Thabari dalam kitab Tarikh-nya melaporkan al-Mu’ayyad dicambuk empat puluh kali pada 24 Juli 866 dan al-Mu’ayyad wafat pada 10 Agustus tahun yang sama.

Al-Mu’tazz mengumpulkan hakim dan pejabat pemerintahan dan memperlihatkan jenazah al-Mu’ayyad untuk menghapus praduga bahwa al-Mu’ayyad mati dibunuh. Memang, tubuhnya tidak ada tanda bekas luka, namun menurut catatan Imam Thabari ada kemungkinan al-Mu’ayyad disiksa dengan disuruh tidur di atas es balok hingga meninggal.

Satu lagi adik al-Mu’tazz yang juga bernasib tragis adalah Abu Ahmad. Sebenarnya Abu Ahmad ini jasanya besar karena dia yang memimpin pasukan dalam perebutan kekuasaan melawan al-Musta’in. Namun, al-Mu’tazz khawatir dengan popularitas Abu Ahmad, maka dia pun dimasukkan ke dalam penjara. Pasukan Turki berhasil menyelamatkan Abu Ahmad dari eksekusi, dan dia pun diasingkan ke Basrah. Kelak di kemudian hari Abu Ahmad ini menjadi tokoh yang sangat berpengaruh pada masa khalifah kelima belas, al-Mu’tamid.

Para Jenderal Militer Turki benar-benar menikmati luasnya pengaruh mereka terhadap Khalifah al-Mu’tazz. Dilaporkan dalam Tarikh Thabari bagaimana negara mengeluarkan dana 200 juta dinar untuk membayar gaji dan fasilitas militer. Ini setara dengan dua tahun mengumpulkan pajak (kharaj). Negara terancam bangkrut. Ongkos peperangan dalam perebutan kekuasaan antara al-Musta’in dan al-Mu’tazz saja sudah sangat besar, ditambah lagi dengan kerakusan pihak militer pendukung al-Mu’tazz yang seolah meminta kompensasi atas perjuangan mereka.

Ini mengindikasikan bahwa, berbeda dengan pasukan Islam di masa Nabi SAW dan Sahabat (radhiyallah ‘anhum), pasukan di bawah komando militer Turki di masa al-Mu’tazz ini berperang demi uang bayaran. Ekspedisi militer berikutnya sangat ditentukan berapa banyak negara mampu membayar para tentara. Tak ada loyalitas dan komitmen pada agama.

Jenderal Washif, yang sudah diampuni al-Mu’tazz dalam perannya saat mendukung al-Musta’in, mati di tangan anak buahnya sendiri yang meminta tambahan gaji. Washif menjawab bahwa negara tidak punya uang. Tentaranya marah dan malah membunuh sang Jenderal. Jadi, kalau pendukung khilafah zaman now meminta militer Indonesia untuk mengambil-alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah, kita bisa lihat catatan sejarah dengan ngeri apa yang akan terjadi.

Bagaimana dengan Jenderal Bugha? Bugha, yang juga sudah diampuni al-Mu’tazz, dilantik menggantikan posisi Washif. Namun, al-Mu’tazz tidak bisa benar-benar melupakan sepak terjang Bugha di masa silam. Bugha terlibat dalam pembunuhan ayahnya, al-Mutawakkil, dan juga berada pada posisi pengusung al-Musta’in. Maka, pada 5 November 868 di saat dia tengah menikahkan putrinya dengan anaknya almarhum Washif, Khalifah dan pasukannya bergerak ke Samarra.

Bugha yang dikabari hal itu masih berbaik sangka dan keluar sendiri malam-malam tanpa senjata dan pengawalan pasukan hendak menemui Khalifah al-Mu’tazz. Mungkin diduganya Khalifah datang untuk menghadiri resepsi pernikahan anaknya. Salah besar!

Pasukan Bugha sebelumnya juga sudah protes akan minimnya fasilitas yang mereka terima. Modus Khalifah kembali berhasil: memecah-belah antara Washif – Bugha dengan pasukan mereka. Pangkal persoalannya ya soal duit dan fasilitas. Tapi, nanti Khalifah sendiri akan kena batunya.

Walid al-Maghribi menangkap Bugha yang berjalan sendirian. Mendapat laporan dari Walid, Khalifah al-Mu’tazz langsung memerintahkan Walid membunuh Bugha. Setelah Walid berhasil membawa kepala Bugha, al-Mu’tazz menghadiahi Walid 10 ribu dinar emas. Dilaporkan lima belas anak dan pengikut setia Bugha juga diburu dan di penjara.

Namun, al-Mu’tazz pun tidak bisa bertahan dengan gaya politiknya yang menyingkirkan semua rival dengan kejam. Militer masih mendukungnya selama Khalifah mampu membiayai gaji dan fasilitas mereka. Bila tidak, Khalifah yang dijadikan layaknya boneka ini juga tersingkir dengan tragis.

Pada 11 Juli 869 Masehi, al-Mu’tazz dimakzulkan dari posisinya sebagai Khalifah ketiga belas Abbasiyah. Pertama, sekretaris khalifah ditangkap dan hartanya disita militer di  bawah pimpinan Salih bin Washif. Lantas sekelompok pasukan lain mendatangi Khalifah dan meminta bayaran seraya berjanji akan membunuh Salih bin Washif.

Khalifah yang menyadari bahwa kas negara sudah kosong kemudian mengirim utusan kepada Ibunya, Qabihah, untuk mengeluarkan uang membayar pasukan. Namun, ibunya menolak dengan alasan tidak punya uang. Imam Suyuthi meragukan jawaban ibunda Khalifah ini. Ada laporan bahwa ibunya memang enggan mengeluarkan uang lima puluh ribu dinar, meski dia punya uang tersebut.

Kegagalan al-Mu’tazz memenuhi permintaan militer ini fatal. Ini membuat semua fraksi militer (Turki, Faraghinah, dan Magharibah) bersatu dan sepakat menyingkirkan Khalifah yang sudah bangkrut ini. Mereka butuh boneka berikutnya.

Salih bin Washif, Bayakbak, dan Muhammad bin Bugha berdiri di pintu istana dan berteriak menyeru Khalifah untuk keluar menemui mereka. Al-Mu’tazz mengirim utusan membawa pesannya bahwa dia telah meminum obat sehingga kondiisnya tidak kuat untuk ke luar kamar. Jika masalahnya mendesak, Khalifah mempersilakan salah satu dari mereka masuk ke kamarnya. Namun, jika tidak mendesak, Khalifah meminta mereka menunggu sampai esok hari.

Tidak suka dengan respons Khalifah, maka pasukan menyerbu masuk dan menyeret Khalifah al-Mu’tazz keluar istana. Sambil mereka memukuli Khalifah yang saat itu masih berusia sekitar 24 tahun. Baju Khalifah koyak di sana-sini dan darah terlihat di bahunya. Sang Khalifah dijemur di panas terik mentari. Tragis!

Al-Mu’tazz kemudian dipaksa untuk menulis surat pegunduran dirinya. Sejarah berulang: dulu dia memaksa al-Musta’in memgundurkan diri, kini dia sendiri yang dipaksa untuk mundur. Namun al-Mu’tazz kondisinya sudah terlalu lemah. Dia tidak sanggup menuliskannya. Lantas surat dituliskan dan dia dipaksa menandatanganinya.

Setelah itu dia dimasukkan ke dalam kamar tanpa diberi makan dan minum selama tiga hari. Akhirnya, al-Mu’tazz tak bisa lagi bertahan. Al-Mu’tazz wafat.

Maka, sekali lagi, militer berhasil mengangkat dan memberhentikan Khalifah sesuka mereka. Tak ada keterlibatan rakyat. Tak ada penghormatan pada bai’at. Yang berlaku adalah asas kekuasaan ditambah kecintaan pada uang dan fasilitas.

Imam Thabari mampu menyuguhkan episode demi episode dengan detail karena beliau hidup pada periode ini. Uraiannya menjadi catatan konkret akan apa yang terjadi. Menulis sejarah memang harus apa adanya. Kalau bagus, ya kita bilang bagus. Tapi kalau kelam, harus pula disampaikan ini kelam. Kejujuran ilmiah itu penting. Masak data sejarah mau direkayasa seolah-olah khalifah itu semuanya bagus?

Gonjang-ganjing naik-turun empat khalifah berturut-turut pada periode ini telah kita bahas. Peranan militer Turki tergambar jelas. Bangkrutnya keuangan negara sudah kita uraikan. Sepeninggal al-Mu’tazz siapakah yang akan menggantikannya? Bagaimana nasib khalifah berikutnya? Mampukah khalifah selanjutnya mengembalikan stabilitas politik? Kita akan simak insya Allah pada ngaji sejarah politik Islam berikutnya.

Sumber: https://geotimes.co.id/kolom/politik/al-mutazz-khalifah-yang-bangkrut-dan-disiksa-pasukannya/

Leave a Reply